Mulyanto Desak BRIN Teliti Polusi Di Sekitar Kawasan Puspiptek Serpong

Jakarta (11/8) – Terkait pemberitaan Kota Tangerang Selatan dan secara khusus Kecamatan Serpong, disebut-sebut sebagai kota terpolusi secara nasional, sebagaimana dirilis lembaga bernama Nafas Indonesia, Mulyanto mendesak BRIN Kawasan Puspiptek Serpong untuk segera melakukan uji mandiri memverifikasi kebenaran klaim tersebut.

Ini penting untuk memastikan bahwa kawasan Puspiptek Serpong dimana di dalamnya beroperasi banyak laboratorium riset dan laboratorium uji, termasuk Techno Park, bukanlah kawasan sumber polutan tersebut.

Selain itu, verifikasi itu dapat mengurangi keresahan warga Serpong karena walau bagaimana, ketika disebut-sebut bahwa daerahnya adalah daerah terpolusi paling tinggi secara nasional dan merupakan daerah yang tidak sehat untuk dihuni maka warga Serpong tentu saja menjadi resah.

“Secara pribadi saya ragu atas hasil pengukuran Nafas ini, mengingat saya sendiri tinggal di Kota tangsel yang relatif sedikit industri dibandingkan dengan Kota Tangerang atau Kabupaten tangerang.

Selain itu Nafas menggunakan low cost sensor yang juga diragukan akurasinya.

Nafas juga tidak menjelaskan sumber-sumber polutan yang menyebabkan Kota tangsel disebut sebagai kota yang paling berpolusi secara nasional,” kata Mulyanto.

Namun, lanjut Mulyanto, ketimbang berspekulasi terlalu jauh, sebaiknya BRIN melakukan pengukuran mandiri untuk memverifikasi klaim Nafas Indonesia tersebut. BRIN sebagai lembaga riset yang kompeten tentu dapat melakukan itu, sehingga dapat membantu meredakan keresahan warga Serpong.

Mulyanto menambahkan BRIN tentunya memiliki unit riset terkait kesehatan lingkungan serta perangkat monitoring lingkungan yang canggih. Sebaiknya alat tersebut digunakan untuk meneliti kasus ini lebih dalam. Ini juga sekaligus sebagai bentuk kontribusi BRIN Kawasan Puspiptek Serpong dalam upaya membantu peningkatan kesehatan lingkungan warga di sekitar kawasan.

Sebagai informasi diberitakan Tangerang Selatan menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada Juli 2023. Hal ini diketahui berdasarkan catatan Nafas Indonesia, lembaga pemantau kualitas udara.

Dalam catatan terbaru yang dikeluarkan oleh Nafas, rata-rata polutan udara PM 2.5 di Tangerang Selatan pada Juli berada di angka 60 µg/m³ (mikrogram per meter kubik), naik dari 56 µg/m³. Wilayah Serpong, Tangerang Selatan, berada di peringkat pertama kualitas udara terburuk dengan rata-rata PM 2.5 yang dihasilkan 80 µg/m³.

Nafas menyatakan, kualitas udara tersebut tidak sehat untuk manusia. Buruknya kualitas udara ini mengintai kesehatan warga, termasuk anak-anak.

Menurut Nafas Indonesia, menghirup udara buruk terus-menerus dalam jangka pendek bisa berefek ke otak, yakni bisa mengidap attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). ADHD adalah gangguan mental yang kerap kali dialami oleh anak-anak.

Efek ini bahkan bisa terjadi sejak anak masih dalam kandungan. Polusi udara juga menimbulkan masalah influenza dan rhinitis, juga bisa berefek pada jantung, paru-paru, dan penuaan dini. Sementara itu, menghirup polusi udara buruk dalam jangka pendek bisa berefek ke otak, yakni alzheimer, parkinson, stroke.

Bahaya lain yang juga mengintai yakni pneumonia, kanker paru-paru, dan penyumbatan darah. Perempuan juga bisa melahirkan secara prematur jika terus-menerus menghirup udara buruk.

Total Views: 1106 ,
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Print

|| RILIS TERBARU

© Copyrights DR. H. Mulyanto, M.Eng